Tampilkan postingan dengan label Branding Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Branding Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011



Sapta pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik wisatawan berkunjung kesuatu daerah atu wilayah di negara kita.
1. Aman
Wisatawan akan senang berkunjung kesuatu tempat apabila mersa aman, tentram, tidak takut, terlindung dan bebas dari :
a. Tindak kejahatan, kekerasan, ancaman seperti kecopetan, pemerasan, penodongan, penipuan, dan lain sebagainya.
b. Terserang penyakit menular dan penyakit berbahaya lainnya.
c. Kecelakaan yang disebabkan oleh alat perlengkapan dan fasilitas yang kurang baik, seperti kendaraan, peralatan untuk makan dan minum, lift, alat perlengkapan rekreasi atau olahraga.
d. Gangguan oleh masyarakat, antara lain berupa pemaksaan oleh pedagang asongan, tangan jail, ucapan dan tindakan serta prilaku yang tidak bersahabat dan lain sebagainya.
Jadi, aman berarti terjamin keselamatan jiwa dan fisik, termasuk milik (barang) wisatawan.
2. Tertib
Kondisi yang tertib merupakan sesuatu yang sangat di dambakan oleh setiap orang termasuk wisatawan.Kondisi tersebut tercermin dari suasana yang teratur, rapi dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat, misalnya :
a. Lalu lintas tertib, teratur dan lancar, alat angkutan datang dan berangkat tepat pada waktunya.
b. Tidak nampak orang berdesakan atau berebutan untuk mendapatkan atau membeli sesuatu yang di perlukan.
c. Bangunan dan lingkungan di tata teratur dan rapi.
Pelayanan dilakukan dengan baik.
Informasi yang benar dan tidak membingungkan.
3. Bersih
Bersih merupakan suatu keadaan atu kondisi lingkungan yang menampilkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit dan pencemaran. Wisatawan akan merasa betah dan nyaman bila berada ditempat-tempat yang bersih dan sehat seperti :
a. Lingkungan yang bersih baik dirumah sendiri maupun di tempat-tempat umum seperti di hotel, restoran, angkutan umum, tempat rekreasi, tempat buang air kecil/besar, dsb. Bersih dari sampah, kotoran, corat-coret, dsb.
b. Sajian makanan dan minuman bersih dan sehat.
c. Penggunaan dan penyediaan alat perlengkapan yang bersih seperti sendok, piring, tempat tidur, alat olah raga, dsb.
d. Pakaian dan penampilan petugas bersih, rapi dan tidak mengeluarkan bau tidak sedab, dsb.
4. Sejuk
Wisatawan akan senang berkunjung ketempat yang sejuk. Sejuk dapat tercermin melalui penciptaan lingkungan yang serba hijau, segar, rapi, nyaman, dan tentram baik di dalam maupun diluar ruangan. Partisipasi masyarakat dalam turut menciptakan ksejukan lingkungan, antara lain dengan cara :
a. Turut serta aktif memelihara kelestarian lingkungan dan hasil penghijauan yang telah dilakukan masyarakat atau pemerintah.
b. Berperan secara aktif untuk menganjurkan dan mempelopori serta melaksanakan kegiatan penghijauan dengan menanam berbagi tanaman di halaman rumah masing-masing baik untuk hiasan maupun tanaman yang bermanfaat bagi rumah tangga, melakukan penanaman pohon/tanaman rindang di sepanjang jalan lingkungan masing-masing dsb.
c. Membentuk perkumpulan yang tujuannya memelihara kelestarian lingkungan.
d. Memprakarsai berbagi kegiatan dan upaya lain yang dapat membuat lingkungan hidup kita menjadi sejuk, bersih, segar dan nyaman.
5. Indah
Keadaan atau suasana yang menampilkan lingkungan yang menarik dan sedap dipandang disebut indah. Indah dapat dilihat dari berbagi segi, seperti dari segi tata warna, tata letak, tata ruang, bentuk ataupun gaya dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk di lihat.
6. Ramah
Ramah merupakan suatu sikap dan prilaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum, dan menarik hati. Ramah tamah tidaklah berarti bahwa kita harus kehilangan kepribadian kita ataupun tidak tegas dalam menentukan suatu keputusan atau sikap. Ramah adalah watak dan budaya bangsa Indonesia pada umumnya, selalu menghormati tamunya dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah ini merupakan suatu daya tarik bagi wisatawan, oleh karena iti harus kita pelihara terus.
7. Kenangan
Kenangan adalah kesan yang melekat dengan kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang diperolehnya. Kenangan dapat berupa yang indah dan menyenangkan, akan tetapi dapat pula tidak menyenangkan. Kenangan yang akan diwujudkan dalam ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berpariwisata di Indonesia, dengan sendirinya adalah infah dan menyenangkan. Kenangan yang indah ini dapat pula diciptakan dengan antaralain :
a. Akomodasi yang nyaman, bersih dan sehat, pelayan yang cepat, tepat dan ramah, suasana yang mencerminkan ciri khas daerah dalam bentuk dan gayabangunan serta dekorasinya.
b. Atraksi seni budaya daerah yang khas dan mempesona baik itu berupa seni tari, sen suara, berbagai macam upacara.
c. Makanan dan minuman yang khas daerah yang lezat, dengan penampilan dan penyajian yang menarik. Makanan dan minuman ini merupakan suatu daya tarik yang kuat dan dapat dijadikan jatdiri (identitas) bangsa.
d. Cinderamata yang mungil yang mencerminkan ciri-ciri khas daerah, bermutu tinggi, mudah dibawa dan dengan harga yang terjangkau, mempunyai arti tersendiri dan dijadikan bukti atau kenangan dari kunjungan seseorang ke suatu tempat/daerah/negara.
Upaya Mewujudkan Sapta Pesona
Proses pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan peningkatan sadar wisata masyarakat. Demikian pula penciptaan Sapta Pesona harus sejalan dengan pembangunan daerah pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya.
Adalah merupakan tugas bersama antara pemerintah, dunia usaha/swasta, dan masyarakat sesuai dengan profesinya masing-masing untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terwujudnya Sapta Pesona dan menciptakan iklim yang baik bagi tumbuh berkembangnya sadar wisata masyarakat.
Mewujudkan Sapta Pesona, identik dengan menambah pesona pariwisata Indonesia (termasuk pariwisat Jawa Tengah). Itu berarti, meningkatkan daya tarik atau daya pesona pariwisata kita atau daya tarik obyek dan daya tarik wisata.
Bagaiman caranya? Masing-masing kita harus berusaha sedapat mungkin agar sikap, tingkah laku, perbuatan dan cara hidup kita sehari-hari mencerminkan unsur-unsur yang terkandung dalam Sapta Pesona, yakni secara sadar, teratur dan berencana berperan aktif dalam turut :
1. Memelihara keamanan :
Tidak melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan suasana tidak aman atau menimbulkan terganggunya keselamatan orang lain. Bekerja sama dengan aparat keamanan untuk menanggulangi masalah keamanan lingkungan.
2. Memelihara ketertiban umum :
Berusaha mematuhi peraturan-peraturan, tata tertib di jalan raya, maupun ditempat-tempat umum, membiasakan diri bersabar berbaris menunggu giliran, antri dan sebagainya.
3. Menjaga kebersihan :
Membudayakan sifat, sikap penampilan yang bersih dan apik dalam segala hal, suka kebersihan, secara sadar senantiasa berupaya menampilkan dan menjaga kebersihan dimanapun berada.
4. Membantu program penghijauan :
Turut membantu program penghijauan (pemanfaatan lahan/ pekarangan untuk penghijauan), turut memelihara pertumbuhab pohon2 pelindung yang ditanam sepanjang pinggir jalan raya, dll.
5. Menciptakan lingkungan yang indah :
Turut memelihara keindahan kota/desanya masing2, mempercantik lingkungan kawasan pemukiman, hotel, restauran, oerkantoran, kawasan pertokoan, pusat2 perbelanjaan, dan memperindah jalur wisata dan lingkungan obyek wisata.
6. Memperlihatkan sikap ramah amah :
Keramah tamahan yang merupakan warisan budaya bangsa hendaknya tetap dijaga, dijunjung tinggi dan tercermin dalam tata kehidupan, tata pergaulan sehari-hari.
7. Menyajikan kenangan yang indah :
Turut menyajikan dan memelihara suasana, iklim, kesempatan, dan pelayanan yang baik, yang dapat membuahkan kenangan indah, kenangan manis yang tak mudah dilupakan baik bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

" Cirebon The Gate of Secret " sebagai Promo Dagang Potensi Kota Cirebon

Sebagai warga Kota Cirebon " Wonk Cherbon " tentunya setiap geliat dan tarikan napas daerahnya agar untuk turut andil berpartisipasi aktif dalam mengangkat segala potensi Kota Cirebon sesuai dengan bidang masing-masing, tulisan ini diangkat sebagai bentuk dukungan kami sebagai warga kepada Pemerintah Kota Cirebon, mengingat baru-baru ini Kota Cirebon dibawah kepemimpinan Bapak Subardi, S.Pd, konsokuensi dan totalitalitasnya terhadap komitmen dan Visi - Misi membangunan Kota Cirebon banyak dipertanyakan masyarakatnya, namun sebuah angin segar bagi kami warganya bahwa baru-baru ini Walikota Cirebon bersama Kepala Dinas Disporbudpar Drs. Abidin Aslich meluncurkan sebuah merek dagang untuk menjual segala potensi Kota Cirebon yang ujungnya bermuara pada peningkatan Kunjungan Wisata ke Kota Cirebon.

Merek dagang atau biasa disebut dengan Branding bukan hanya dibutuhkan untuk mempromosikan produk barang saja, dalam dunia Pariwisata pun kini memamfaatkanya sebagai salah satu kiat untuk meningkatkan kunjungan wisata. sehingga daerah-daerah yang memiliki potensi wisata mulai membuat brand pariwisatanya, dengan kata-kata atau slogan yang menunjukkan ciri dan potensi wisata yang dimilikinya.
Dibeberapa daerah lain cukup efektif dengan mengkampayekan slogan tersebut, seperti
branding Pariwisata DKI Jakarta dengan slogan " Enjoy Jakarta ", Solo " Spirit of Java " Jogja dengan slogannya "Never Ending Asia" Bali slogannya "Santi,Santi,Santi" maka pantaslah kiranya Kota Cirebon juga menggunakan slogan untuk percepatan peningkatan kunjungan wisata dan " Cirebon the Gate of Secret " (Cirebon Pintu Gerbang Rahasia)
Sebuah slogan pariwisata yang penuh philosofi dan mengundang teka-teki banyak orang tentunya, karena ketika daerah lain menawarkan kenikmatan, keindahan, kemegahan dan dan sesuatu yang menarik lainnya, Kota Cirebon justru menawarkan slogan yg penuh teka;teki, Rahasia, sesuatu yang belum diketahui seperti apa adanya, dan sepertinya tak ubahnya membeli kucing dalam karung....
itulah hal menarik tentunya yg akan mengundang banyak orang bertanya dn penasaran terutama para wisatawan, dengan harapan mereka kemudian tertarik menjadikan Kota Cirebon sebagai tujuan wisata.

Lantas apakah titik-titik yang akan menjadi teka-teki itu sudah siap mendukungnya, wal hasil, karena beberapa tempat yang sudah dijadikan ikon pariwisata Kota Cirebon, kondisinya sangat memprihatainkan, tengaok saja seperti Keraton Kanoman beberapa waktu mendemo Walikota nya sendiri, Keraton Kasepuhan yg geliatnya masih kurang menggema sepeninggalnya Sultan Sepuh Maulana Pakuningrat, SH dan obyek wisata Gua Sunyaragi yang pada jaman Orba cukup favorit kini hilang rasa keindahan, dan kenyamanannya serta tempat-tempat wisata jiarah lainnya.

Semoga....Branding tersebut mempunyai makna-makna luhur yang juga banyak tersembunyi dalam filosofi kesenian tradisional Cirebon, yang tidak semua orang dapat memahaminya. maka harapan branding itu ingin menunjukan bahwa Kota Cirebon disamping memiliki potensi wisata yang berupa fisik, namun juga mempunyai kekayaan makna yang bersifat Rahasia, sehingga memasuki Kota Cirebon seolah memasuki belantara yang penuh dengan rahasia yang berupa makna-makna, seperti makna yang digambarkan pada Mesjid Sang Cipta Rasa dari pintunya yg buat rendah, atau Kereta Kencana Singa Barong dan Paksi Naga Liman, semua memiliki Rahasia.

walau banyak kalangan yang menilai branding ini sulit dimengerti (apalagi bahasanya) membingungkan dan sulit dipahami oleh masyarakat, meski sebutulnya makna dari kalimat tersebut cukup kuat.
bahkan sebagian masyarakatpun bertanya apakah kalimat slogan itu betul merupakan refresentasi dari produk wisata yang akan dijual oleh Kota Cirebon ?
yaa semoga saja walau branding itu tidak identik dengan logo atau semboyan,akan betul-betul mencerminkan jiwa dan sikap keseharian warga (emotional binding) atau keterikatan emosional yang kuat warga Kota Cirebon dgn branding yang diklaimnya,
sebagai warga berharap slogan itu akan membawah Kota Cirebon lebih maju dan berkepribadian.

Senin, 03 Oktober 2011

Konsep dan Definisi dunia Kepariwisataan

Konsep dan Definisi

WISATAWANDefinisi wisatawan ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi International Union of Office Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism Organization (WTO). Wisatawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan perjalanan ke sebuah atau beberapa negara di luar tempat tinggal biasanya atau keluar dari lingkungan tempat tinggalnya untuk periode kurang dari 12 (dua belas) bulan dan memiliki tujuan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata. Terminologi ini mencakup penumpang kapal pesiar (cruise ship passenger) yang datang dari negara lain dan kembali dengan catatan bermalam.
HOTELHotel adalah suatu bidang usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian banguna yang disediakan secara khusus, untuk setiap orang yang menginap, makan, memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. Ciri khusus dari hotel adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut. Kelas hotel ditentukan oleh Dinas Pariwisata Daerah (Diparda).
Hotel Berbintang
suatu bidang usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian banguna yang disediakan secara khusus, untuk setiap orang yang menginap, makan, memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran, dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang ditentukan oleh Dinas Pariwisata Daerah (Diparda). Persyaratan tersebut antara lain mencakup:
  • Persyaratan Fisik, seperti lokasi hotel, kondisi bangunan.
  • Bentuk pelayanan yang diberikan (service).
  • Kualifikasi tenaga kerja, seperti pendidikan, dan kesejahteraan karyawan.
  • Fasilitas olahraga dan rekreasi lainnya yang tersedia, seperti lapangan tenis, kolam renang, dan diskotik.
  • Jumlah kamar yang tersedia.
Akomodasi Lainnya
suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disedikan secara khusus, di mana setiap orang dapat menginap dengan atau tanpa makan dan memperoleh pelayanan serta menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. Akomodasi lainnya meliputi: hotel melati yaitu hotel yang belum memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang ditentukan oleh Diparda, penginapan remaja, pondok wisata, dan jasa akomodasi lainnya.
  • Hotel Melati/ Losmen/ Penginapan
    usaha penyediaan jasa pelayanan penginapan umum yang dikelola secara komersial dengan menggunakan sebagian atau seluruh bagian bangunan.
  • Penginapan Remaja
    usaha penyediaan jasa pelayanan penginapan yang ditujukan bagi remaja sebagai akomodasi dalam rangka kegiatan pariwisata dengan tujuan untuk rekreasi, memperluas pengetahuan/ pengalaman dan perjalanan.
  • Pondok Wisata
    usaha penyediaan jasa pelayanan penginapan bagi umum dengan pembayaran harian yang dilakukan secara individual dengan menggunakan sebagian dari tempat tinggalnya.
  • Jasa Akomodasi Lainnya
    usaha penyediaan jasa pelayanan penginapan yang tidak termasuk pada hotel melati, penginapan remaja dan pondok wisata misalnya wisma.
Tingkat Penghunian Kamar Hotel adalah banyaknya malam kamar yang dihuni dibagi dengan banyaknya malam kamar yang tersedia dikalikan 100%.
Tingkat Penghunian Tempat Tidur adalah banyaknya malam tempat tidur yang dipakai dibagi dengan banyaknya malam tempat tidur yang tersedia dikalikan 100%.
Rata-rata Lama Tamu Menginap adalah banyaknya malam tempat tidur yang dipakai dibagi dengan banyaknya tamu yang menginap di akomodasi tersebut. Rata-rata lama tamu mennginap ini dapat dibedakan antara tamu asing dan tamu dalam negeri.

a. Rata-rata Lama Tamu Asing MenginapBanyaknya malam tempat tidur oleh tamu asing dibagi dengan banyaknya tamu asing yang menginap.

b. Rata-rata Lama Tamu Dalam NegeriBanyaknya malam tempat tidur oleh tamu dalam negeri dibagi dengan banyaknya tamu dalam negeri yang menginap.
Perbandingan Tamu Asing dan Tamu Dalam Negeri adalah perbandingan antara presentase tamu asing dari seluruh tamu dan presentase tamu dalam negeri dari seluruh tamu.
Rata-rata Tamu Per Kamar (GPR) adalah perbandingan antara banyaknya malam tamu atau malam tempat tidur dengan banyaknya malam kamar yang dihuni.
Penjelasan:
GPR = 1,43 berarti bahwa rata-rata kamar yang terjual dihuni oleh 1,43 orang.
Catatan :
1 malam kamar = 1 kamar x 1 malam
1 malam tempat tidur = 1 tempat tidur x 1 malam
1 malam tamu = 1 tamu x 1 malam.
Sumber: Statistik Indonesia

Makna Logo Kementrian Kebudayaan & Pariwisata RI



Logo Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini digunakan sejak tahun 2002.

Makna yang terkandung didalamnya sebagai berikut.


Candi merupakan hasil karya budaya nenek moyang yang sudah lama dikenal di Indonesia. Candi ini merupakan stilisasi dari Gapura Bajang Ratu yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur.

Atap candi berjumlah 7 (tujuh) melambangkan Sapta Pesona, yaitu (a) aman, (b) tertib, (c) bersih, (c) sejuk , (d) indah, (e) ramah-tamah, dan (f) kenangan.
Pintu candi menunjukkan lambang senantiasa terbuka bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia sekaligus menggambarkan keterbukaan hati dan keramahtamahan masyarakat Indonesia.

Anak tangga berjumlah 5 (lima) melambangkan dasar negara Pancasila sebagai landasan dalam membangun kebudayaan dan kepariwisataan Indonesia.
Candi dilingkari dengan dunia yang sedang bergerak melambangkan bahwa kebudayaan dan kepariwisataan Indonesia selalu dinamis mengikuti perkembangan global tetapi tetap menjaga identitas budaya bangsa Indonesia.
Warna ungu melambangkan kekuatan jiwa dalam membangun kebudayaan dan kapariwisataan Indonesia.

Logo Wonderful Indonesia 2011


Konsep Logo
1.Bentuk Logo akan mengambil konsep Garuda Pancasila sebagai dasar Negara, tetapi dengan pengolahan yang modern
2.5 sila akan digambarkan berupa 5 Garis Warna yang berbeda dan merupakan simbol diversity Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman.
3.Logo akan diolah menjadi bentuk dan warna yang dinamis sebagai perwujudan dari Dinamika Indonesia yang sedang berkembang.
4.Jenis Huruf dari Logo akan mengambil dari elemen otentik Indonesia yang disempurnakan dengan sentuhan modern.


Makna logo Sapta Pesona dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur Kemanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan. Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.